Software manajemen order konveksi jersey di Indonesia: pilihan yang ada sekarang
Dari spreadsheet sampai ERP pabrik, plus aplikasi khusus konveksi. Perbandingan jujur pilihan yang tersedia untuk vendor DTF, sublim, dan sablon di Indonesia, termasuk kapan sebaiknya tidak pakai software sama sekali.

Jawaban singkatnya: untuk vendor konveksi dan garment printing di Indonesia ada empat jenis pilihan — spreadsheet, ERP garmen skala pabrik, aplikasi manajemen produksi konveksi, dan aplikasi yang mengikuti alur cetaknya sendiri seperti Cethak. Yang paling cocok tergantung berapa order per bulan dan di mana rugi terbesarmu sekarang: di catatan yang tercecer, atau di film dan kertas yang terbuang.
Pertanyaan ini sering muncul di grup vendor, dan jawabannya jarang tunggal. Berikut pilihan yang benar-benar ada, apa adanya.
1. Spreadsheet (Excel / Google Sheets)
Ini yang dipakai mayoritas vendor sekarang, dan untuk skala kecil memang belum perlu diganti.
Cocok kalau: order di bawah 10 per bulan, dikerjakan sendiri atau dua orang, dan kamu sudah punya kebiasaan mencatat.
Batasnya mulai terasa saat: ada dua orang mengisi file yang sama, ada order yang statusnya cuma ada di kepala satu orang, atau kamu mulai lupa order mana yang DP-nya belum masuk. Spreadsheet mencatat, tapi tidak mengingatkan — dan tidak tahu apa-apa soal pola, kertas, atau nesting.
2. ERP garmen (mis. HashMicro)
Sistem besar untuk pabrik: stok bahan, akuntansi, HR, gudang, sampai laporan produksi.
Cocok kalau: kamu sudah berbentuk pabrik dengan divisi terpisah, punya orang yang mengurus stok bahan penuh waktu, dan butuh laporan keuangan yang menyatu.
Batasnya untuk vendor sublim: ERP tidak mengerti persoalan spesifikmu. Dia bisa mencatat 100 pcs jersey keluar, tapi tidak bisa menyusun pola di roll, tidak tahu kerahmu ketinggalan, dan tidak bisa menghitung berapa meter kertas yang terbuang karena susunan kurang rapat. Biaya dan waktu setupnya juga berat untuk workshop 3–10 orang.
3. Aplikasi manajemen produksi konveksi (mis. Polabook, Manufix)
Di antara keduanya: aplikasi lokal yang fokus ke alur order dan produksi konveksi, jauh lebih ringan daripada ERP pabrik.
Cocok kalau: kebutuhan utamamu memang di sisi administrasi order dan pemantauan produksi konveksi secara umum — bukan khusus sublim.
Yang perlu kamu pastikan sendiri: apakah dia menangani bagian teknis sublim, yaitu penyusunan pola di roll, cek kelengkapan komponen sebelum potong, dan personalisasi nama-nomor punggung massal. Cek langsung ke masing-masing penyedia sebelum memutuskan, karena di sinilah kebutuhan vendor sublim berbeda dari konveksi kaos biasa.
4. Aplikasi yang mengikuti alur cetaknya (Cethak)
Cethak dibuat untuk satu jenis pekerjaan: vendor yang mencetak sendiri di atas kain atau film. Tiga jalur cetak yang paling umum ditangani langsung.
DTF — ini yang paling banyak dipakai sekarang. Raster halftone untuk memecah warna solid jadi titik-titik supaya tinta putih tidak turun penuh, lalu penyusunan gang sheet yang merapatkan banyak desain dalam satu lembar film supaya tidak ada pita kosong yang ikut terbayar.
Sublim — penyusunan pola di roll supaya kertas tidak terbuang, penggabungan beberapa order jadi satu kali print, dan pengecekan komponen yang kurang sebelum masuk mesin potong.
Sablon — tracing gambar jadi vektor, lalu pemisahan warna jadi film per screen lengkap dengan tanda register di posisi yang sama di semua film.
Di atas ketiganya, bagian administrasi yang sama untuk semuanya: personalisasi nama dan nomor punggung untuk order tim, papan produksi untuk memantau tahap tiap order, dan invoice yang bisa dikirim lewat WhatsApp.
Cocok kalau: order sudah lebih dari sekitar 10 per bulan, kamu memegang sendiri printer film DTF atau printer sublim roll, dan sebagian ordernya seragam tim.
Tidak cocok kalau: kamu butuh akuntansi lengkap dan manajemen stok bahan — untuk itu ERP lebih tepat.
Cara memilih tanpa menyesal
Jangan mulai dari fiturnya. Mulai dari pertanyaan ini: rugi terbesarmu bulan lalu ada di mana?
- Kalau jawabannya "order ketuker dan tagihan lupa ditagih" — masalahnya administrasi. Spreadsheet yang lebih rapi mungkin sudah cukup.
- Kalau jawabannya "film atau kertas habis lebih cepat dari perkiraan", "tinta putih boros", atau "salah potong karena komponen kurang" — masalahnya teknis produksi, dan tidak ada spreadsheet yang bisa menyelesaikannya.
Biaya langganan software biasanya lebih kecil dari satu kali kejadian salah potong pada order 50 set. Yang mahal itu bukan aplikasinya, tapi kebiasaan menebak.
Kalau rugi terbesarmu ada di film, kertas, dan salah potong, coba gratis 14 hari — tanpa kartu kredit, dan bayarnya transfer bank seperti kebiasaan vendor di sini. Kalau masih mau lihat-lihat dulu, bandingkan paketnya.