Cara bikin film sablon per warna tanpa misahin satu-satu di Corel
Yang bikin lama di sablon manual bukan nyablonnya, tapi misahin warnanya — lalu bikin tanda register yang ternyata meleset 6 mm antar film. Ini cara memisahkan warna jadi film per screen, dan lima hal yang menentukan filmnya kepakai atau tidak.

Tanya ke tukang sablon mana pun bagian paling menyita waktu dari satu order: jawabannya jarang "nyablonnya". Yang bikin lama itu misahin warnanya — buka file di Corel, pilih satu warna, sembunyikan yang lain, simpan, ulang lagi untuk warna berikutnya. Lalu bikin tanda register di tiap film, satu per satu.
Dan bagian terakhir itu yang paling sering menyisakan penyesalan, karena melesetnya baru ketahuan setelah screen terlanjur diafdruk.
Tanda register yang ditaruh tangan hampir pasti meleset
Kami mengukur dua berkas film sungguhan milik operator sebelum membuat alat ini. Di keduanya tanda registernya ditaruh manual per halaman — dan di salah satunya, offset antar film meleset sampai 6 mm.
Enam milimeter itu bukan angka yang bisa ditutup-tutupi. Di logo dada selebar 25 cm, itu selisih yang langsung kelihatan sebagai warna yang keluar jalur.
Yang mengherankan: melesetnya bukan karena tangannya tidak teliti. Melesetnya karena tiap film dibuat di sesi yang berbeda, dan tanda registernya diletakkan ulang tiap kali. Cukup satu kali salah tempel, seluruh tumpukan ikut geser.
Perbaikannya sederhana secara logika: hitung tanda register dari satu bingkai desain yang sama untuk semua halaman. Kalau bingkainya satu, tandanya tidak punya kesempatan bergeser.
Ukuran tandanya sendiri kami ambil dari yang sudah dipakai operator, bukan dikarang: di dua berkas tadi lengan tandanya 10,64 mm dan 11,85 mm, garisnya 0,353 mm dan 0,5 mm. Dibulatkan jadi lengan 12 mm, garis 0,5 mm — cukup tegas dilihat mata di dua-duanya.
Satu catatan praktis: margin kertas harus minimal 8 mm kalau tandanya dipakai, kalau tidak ujung tandanya kepotong tepi kertas.
Jebakan ukuran: minta 25 cm, yang keluar 5 cm
Ini kesalahan yang paling mahal dan paling tidak kelihatan.
File kiriman klien hampir selalu punya ruang kosong di sekeliling logonya, dan lebarnya sesuka pengirim. Kalau ukuran cetak dihitung dari lebar kanvas gambar, ruang kosong itu ikut dihitung.
Kami mengukurnya: logo yang cuma mengisi 20% lebar gambar, waktu diminta cetak 250 mm, keluar 49,8 mm. Diminta 25 cm, dapat 5 cm — dan itu baru ketahuan setelah filmnya di tangan.
Jadi patokannya harus lebar tinta di kaos, bukan lebar file. Ruang kosong di sekelilingnya dibuang dulu, baru diukur. Angka yang kamu ketik (misalnya 250 mm) memang jadi lebar tintanya yang menempel di kaos; tingginya ikut perbandingan.
Kalau desainnya blok warna rata: filmnya dibuat dari vektor
Desain yang datang lewat WhatsApp hampir selalu sudah pecah. Kalau langsung dipecah warnanya dari gambar pecah itu, tepi tiap warna ikut bergerigi, dan gerigi itu ikut tercetak ke film.
Karena itu jalurnya: gambarnya dijiplak dulu jadi vektor — jadi beberapa bidang warna solid — baru dipecah. Bedanya besar, karena vektor tidak punya gradasi: tidak ada yang perlu diraster, blok tetap blok, dan tepinya ditentukan kurva, bukan piksel.
Ini jalur yang benar untuk logo, huruf, dan artwork blok warna. Tapi tidak semua desain begitu.
Kalau desainnya bergradasi: jalurnya raster, bukan vektor
Ilustrasi penuh warna, foto, bayangan yang meluruh — dijiplak jadi vektor pun tidak menyelamatkannya, karena justru gradasinya yang mau dipindahkan ke kaos.
Untuk itu jalurnya dibalik: tiap tinta dibuatkan satu film halftone. Warna yang tidak ada tintanya dibangun oleh mata dari titik-titik yang bertumpuk — bukan dari empat warna CMYK, tapi dari beberapa tinta yang memang Anda punya. Istilah yang lazim dipakai di luar: simulated process.
Jadi ada tiga jalur, dan memilih yang salah membuat filmnya tidak kepakai:
| Desainnya | Jalurnya | Hasilnya |
|---|---|---|
| Logo, huruf, blok warna rata | Film sablon (vektor) | satu warna satu screen, bidangnya solid |
| Ilustrasi bergradasi, foto | Film raster (simulated process) | satu tinta satu screen, isinya titik halftone |
| Kaos gelap, cetak DTF | Raster DTF | satu PNG transparan untuk printer, bukan film screen |
Baris kedua dan ketiga paling sering tertukar padahal keluarannya beda sama sekali: raster DTF menghasilkan satu file untuk printer, film raster menghasilkan beberapa film untuk screen.
Prosesnya bisa dilihat utuh di sini — satu desain penuh warna dijalankan dari unggah sampai belasan film siap afdruk:
Sisa artikel ini membahas jalur vektor. Tapi aturan tanda register, ukuran cetak, dan urutan naik screen di bawah berlaku sama untuk kedua jalur film sablon.
Pertemuan antarwarna: tanpa celah, tanpa tumpang tindih
Kalau dua warna bersebelahan di desain, ada dua cara gagal: menyisakan celah putih di antaranya, atau saling menimpa sampai warnanya kotor.
Yang menyelesaikan ini ternyata bukan operasi potong-memotong kurva. Hasil jiplakan menumpuk warnanya berlapis — bidang warna yang di bawah memuat seluruh daerah warna di atasnya, lalu ditimpa.
Jadi untuk membuat film satu warna, seluruh bidang digambar ulang dalam urutan aslinya; bidang warna yang sedang dibuat dicat hitam, sisanya putih. Karena lapisan atas menimpa lapisan bawah persis di kurva yang sama, pertemuannya bersentuhan sempurna.
Kami ukur hasilnya di berkas operator: irisan antar film 0 piksel, dan tetap bersentuhan penuh saat mask-nya dilebarkan 1 piksel. Artinya tidak ada tumpang tindih sama sekali, tapi juga tidak ada celah.
Warna dasar di kaos gelap: film blok, bukan tempelan
Ada satu perlakuan khusus yang biasanya cuma diketahui tukang sablon berpengalaman.
Di kaos gelap, warna dasar tidak dicetak sebagai potongan-potongan mengikuti bentuk warna di atasnya. Ia dicetak sebagai bidang solid penuh dulu, lalu warna berikutnya menumpang di atasnya.
Alasannya soal risiko meleset. Kalau warna dasarnya berlubang mengikuti bentuk warna atas, sedikit saja geser, yang nongol di celahnya adalah warna kaos. Kalau dasarnya blok penuh, yang nongol paling banter warna dasarnya sendiri — jauh lebih tidak kelihatan.
Karena itu tiap warna bisa ditandai "blok". Bisa lebih dari satu, dan memang kadang perlu: pada desain bergradasi, dua warna bertumpuk sebagai blok membuat pertemuan keduanya ditentukan tepi screen, bukan tepi hasil pembagian warna yang bergerigi.
Urutan naik screen, dan bintik yang tidak kelihatan
Urutannya diambil dari urutan tumpukan desainnya sendiri — dari bawah ke atas. Aturan tukang sablon "yang penting cream dulu baru coklat" itu memang aturan tumpukan, jadi urutan alaminya sudah benar dengan sendirinya. Warna yang tidak saling bersentuhan boleh ditukar sesuka hati.
Bintik kecil adalah masalah yang berbeda dan lebih licik. Waktu warna-warna disederhanakan jadi beberapa warna solid, selalu ada serakan kecil yang nyasar ke warna tetangga. Di film ia muncul sebagai titik-titik entah milik siapa — terlalu kecil untuk diperhatikan di layar, tapi cukup untuk kelihatan di kaos.
Biasanya operator baru melaporkannya setelah mencetak. Angka itu bisa dimunculkan sebelumnya: bintik yang lebih kecil dari sekitar 0,4 mm² dihitung dan dilaporkan per film — misalnya "43 bintik kecil di film kuning". Tinggal naikkan setelan pembuang bercaknya, atau biarkan kalau memang bagian desain.
Lima hal yang layak dicek sebelum film keluar
- Berapa warna, berarti berapa screen. Ini yang menentukan ongkos dan waktu. Dua warna yang mirip bisa digabung jadi satu screen — kamu yang menentukan, bukan mesinnya.
- Lebar tinta di kaos, dalam mm. Bukan lebar file.
- Resolusinya di ukuran cetak sebenarnya. File 3425 px yang dicetak 250 mm setara 348 dpi — cukup tajam. Angka yang sama di ukuran cetak dua kali lipat tidak lagi cukup.
- Jumlah bintik per film. Kalau ada yang puluhan, hampir pasti itu bukan bagian desain.
- Margin minimal 8 mm kalau tanda register dipakai.
Film yang bagus bukan yang paling hitam pekat — tapi yang tanda registernya bisa dipercaya, dan ukurannya sama dengan yang kamu janjikan ke klien.
Semua langkah di atas bisa dikerjakan manual, cuma memang menyita waktu — dan tiap order baru diulang dari nol.
Di Cethak bagian ini otomatis. Unggah desainnya (PNG, JPG, atau PDF/SVG vektor kalau klien punya), warnanya dideteksi sendiri, lalu keluar PDF film satu warna satu halaman lengkap dengan tanda register di posisi yang sama persis. Warna diberi nama Indonesia — Hitam, Kuning, Biru muda — selalu didampingi kode hex-nya supaya tidak ada tebak-tebakan. Ada juga pilihan cermin untuk yang emulsinya menghadap ke bawah.
Kalau yang kamu kerjakan DTF dan bukan sablon manual, urusannya lain: raster DTF untuk menahan tinta putih, dan gang sheet untuk merapatkan banyak desain dalam satu lembar film. Perbandingan pilihan software untuk vendor konveksi ada di halaman terpisah.
Masa cobanya 14 hari, dan pendaftarannya tidak minta kartu kredit.