← Semua artikel

Cara menyusun gang sheet DTF supaya film tidak terbuang

Order 20 logo dada kecil-kecil, tapi filmnya keluar 1,5 meter. Biasanya bukan karena desainnya kebanyakan — tapi karena margin kosong ikut terhitung dan barisnya ditumpuk. Ini cara menyusunnya.

Dua desain kaos tersusun berdampingan di satu lembar film DTF, dengan celah sempit di antaranya
Satu lembar film, beberapa desain sekaligus — yang menentukan panjangnya bukan besar desainnya, tapi cara menyusunnya.

Ada satu momen yang bikin ngedumel sendiri di depan printer: order masuk berisi 20 logo dada, semuanya kecil, tapi begitu filmnya keluar panjangnya hampir satu setengah meter. Padahal kalau ditotal luas desainnya, rasanya tidak sampai separuh itu.

Menyusun banyak desain jadi satu lembar film panjang itu yang biasa disebut gang sheet. Tiap desain di lembar itu kita sebut potongan, karena nanti memang dipotong satu per satu. Ide dasarnya sederhana: daripada mencetak tiap desain sendiri-sendiri dan tiap kali menyisakan pita film kosong, semuanya dirapatkan dalam satu jalan. Yang bikin hasilnya beda jauh antaroperator bukan idenya, tapi hal-hal kecil di bawah ini.

Film terbuang bukan di celah antardesain

Kalau ditanya di mana film paling banyak terbuang, kebanyakan orang menunjuk jarak antardesain. Padahal jarak 1 cm itu memang harus ada — itu ruang buat memotong dan mengupas.

Tiga hal ini yang biasanya lebih rakus:

  • Margin transparan yang ikut disusun. File desain hampir selalu punya margin transparan di sekelilingnya, kadang lebar sekali. Kalau margin itu ikut dianggap bagian desain, film terbuang persis sebanyak ruang yang tidak pernah kena tinta.
  • Baris baru yang dibuka terlalu cepat. Begitu satu potongan telanjur diturunkan ke baris berikutnya, seluruh lebar sisa di baris atasnya ikut hangus.
  • Ukuran yang ditebak dari piksel, bukan dari sentimeter cetaknya.

Pangkas dulu sampai batas tintanya

Langkah pertama: pangkas tiap desain sampai mepet ke piksel terluar yang benar-benar kena tinta. Logo yang di filenya 20 x 20 cm tapi tintanya cuma mengisi 9 x 6 cm di tengah, ya yang disusun harus 9 x 6 cm.

Satu hal yang sering ketahuan terlambat: JPEG tidak menyimpan transparansi. Latar putih di JPEG itu bukan "kosong", itu putih beneran, dan di film DTF putih adalah tinta. Hasilnya kotak putih mengelilingi desain waktu sudah menempel di kaos. Kalau yang kamu mau cuma bentuk desainnya, file masuknya harus PNG berlatar transparan.

Tulis ukurannya dalam sentimeter cetak, bukan piksel

Angka yang menentukan panjang film itu lebar desain setelah dicetak — logo dada 9 cm, nama punggung 18 cm. Bukan lebar roll, bukan lebar file.

Sekalian: untuk desain biasa, resolusi berlebih tidak menambah apa-apa. Desain 2400 px yang dicetak 9 cm itu setara 677 dpi, dan piksel di atas 300 dpi tidak pernah sampai ke film — yang bertambah cuma ukuran filenya, dan itu yang bikin PDF berat waktu dibuka di Corel. Menurunkannya ke kebutuhan cetak aman; membesarkan file lebih dulu tidak menolong sama sekali.

Ada satu pengecualian yang perlu diingat: hasil Raster DTF. Film halftone tidak tunduk pada patokan 300 dpi — yang menentukan di sana berapa piksel yang tersedia untuk satu titik, dan resolusinya sengaja boleh jauh lebih tinggi. Tentukan ukuran cetaknya di halaman Raster, lalu bawa apa adanya ke lembar gang sheet. Kalau di lembar ini ukurannya dikecilkan lagi, titik-titiknya ikut diperhalus dan tepi yang seharusnya tajam jadi melunak.

Jarak antardesain: perlu, tapi jangan dibayar dua kali

Jarak 1 cm antarpotongan itu wajar. Yang sering luput: potongan yang sudah mepet tepi kanan roll tidak perlu jarak lagi di kanannya — di sebelahnya sudah tepi film, tidak ada yang perlu dipisahkan.

Kelihatannya sepele sampai kena kasus ini. Roll 60 cm dengan sisa 1 cm kanan-kiri berarti area cetak 58 cm. Sepasang desain lebar 28,08 cm mestinya muat berdampingan (56,16 cm, plus 1 cm di antaranya jadi 57,16 cm). Tapi kalau jarak 1 cm ikut ditagih di kanan desain kedua, hitungannya jadi 58,16 cm — lewat 58 cm sedikit, dan desain kedua terlempar ke baris bawah. Film yang harusnya 38,3 cm jadi 77,6 cm. Dua kali lipat, gara-gara 0,16 cm.

Jadi waktu memeriksa susunan, perhatikan baris yang cuma diisi satu potongan padahal sisa lebarnya masih kelihatan cukup.

Rotasi bebas — tapi satu aturan penyusunan tidak pernah cukup

Di film DTF tidak ada arah serat seperti di kain sublim, jadi potongan boleh diputar sesukanya.

Yang tidak selalu benar adalah anggapan bahwa satu cara penyusunan pasti menang. Ada kasus terukur di roll 30 cm dengan campuran ukuran nyata: cara penyusunan yang membolehkan rotasi keluar 220 cm, sementara cara tanpa rotasi cuma 209 cm. Penempatan yang menaruh potongan satu per satu memang bisa menang di langkah-langkah awal lalu kalah di total panjang.

Makanya yang benar bukan memilih satu aturan, tapi mengadu beberapa cara penyusunan lalu memakai yang filmnya paling pendek — urut dari sisi terpanjang, urut dari luas, urut dari satu sisi saja; masing-masing dengan dan tanpa rotasi. Enam varian, dan yang terpendek yang dipakai.

Supaya tidak salah baca: perbandingan 209 vs 220 cm itu antar-cara-penyusunan, bukan antar-setelan. Menyalakan "boleh diputar" sendiri tidak pernah memperpanjang film, karena varian tanpa rotasi tetap ikut diadu di dalamnya — mematikannya hanya memangkas pilihan. Satu-satunya alasan sah untuk mematikannya adalah kemudahan mengupas, dan itu alasan yang cukup.

Angka yang layak dilihat sebelum film keluar

Empat angka ini cukup untuk menilai satu lembar:

  1. Panjang film dalam meter. Ini yang dikali tarif per meter jadi ongkos.
  2. Persen terisi. Berapa bagian area cetak yang tertutup kotak pembatas potongan — bukan tintanya. Ruang transparan di dalam kotak ikut terhitung terisi, jadi sepasang desain bulat yang kotaknya rapat sempurna tetap tampil 100% walaupun cekungan di antaranya jelas-jelas film yang terbuang. Angka ini penunjuk arah, bukan ukuran tinta.
  3. Berapa potongan yang diputar. Menentukan enak-tidaknya mengupas nanti.
  4. Jumlah halaman PDF. Di Cethak satu halaman dipotong di 5 m (batas keras format PDF-nya sendiri 5,08 m). Lembar yang lebih panjang dipecah — dan pemecahannya wajib diambil di celah antarbaris supaya tidak ada desain yang terbelah dua halaman.

Satu kebiasaan murah yang menyelamatkan: sebelum menerbitkan, ganti latar pratinjaunya ke abu atau hitam. Alasannya sama persis dengan yang berlaku di raster DTF — bagian desain yang putih tidak akan terlihat di atas latar putih. Waktu mencetak, PDF-nya 1:1; jangan diskalakan.

Susunan terpendek belum tentu susunan terbaik

Ada satu hal yang tidak muncul di angka mana pun: berapa lama lembar itu dikupas nanti.

Kalau 40 potongan bercampur miring semua, waktu yang hilang di meja pengupasan bisa lebih mahal daripada 15 cm film yang dihemat. Di situlah mematikan rotasi jadi keputusan yang masuk akal — bukan karena filmnya jadi lebih pendek, tapi karena kerjanya jadi lebih gampang dibaca.

Hal serupa berlaku untuk lembar yang kepanjangan. Di atas 200 potongan, pecah jadi beberapa lembar: selain berat diproses, lembar sepanjang itu juga repot dikupas.

Dan ada order yang memang tidak menyisakan ruang hemat sama sekali. Desain punggung 55 cm di roll 60 cm tidak menyisakan tempat untuk tetangga di kanan-kirinya; yang bisa dihemat tinggal jarak antarbaris. Kalau yang boros bukan filmnya tapi tinta putih yang turun, itu urusan lain — bahasannya ada di apa itu raster DTF.

Yang kamu bayar itu meter film. Persen terisi cuma penunjuk arah — dan penunjuk yang agak longgar, karena yang dihitungnya kotak, bukan tinta.


Semua langkah di atas bisa dikerjakan manual di Corel, cuma memang menyita waktu — dan tiap order baru harus diulang dari nol.

Di Cethak bagian ini otomatis. Unggah desainnya, tulis lebar cetak tiap desain dalam cm beserta jumlahnya, lalu pilih roll 60 cm atau 30 cm. Margin transparannya dipangkas sendiri, dan beberapa varian susunan diadu untuk mengambil film terpendek. Susunannya masih bisa digeser dan diputar manual sebelum diterbitkan. Panjang film dan tarif per meternya langsung jadi invoice klien; persen terisi tetap di layar operator.

Hasil dari Raster DTF juga bisa dicampur langsung di lembar yang sama, tanpa unduh-unggah lagi. Ada masa coba 14 hari, dan pendaftarannya tidak minta kartu kredit.

Berhenti menebak, mulai menghitung otomatis

Cethak mengurus cek kelengkapan pola, nesting hemat kertas, dan hitungan biaya — semua sekali klik. Coba gratis.