← Semua artikel

Berapa harga print sublim per meter? Cara menghitung tarif kalau roll-mu ada 110, 160, dan 180 cm

Satu tarif rata per meter kelihatannya adil, padahal order dengan isi yang sama bisa ditagih 64% lebih mahal begitu jatuh ke roll sempit. Ini cara menyusun tarif per lebar roll, plus dari mana angka meter di nota seharusnya datang.

Tiga batang sepanjang satu meter dengan lebar berbeda — roll 110, 160, dan 180 cm — masing-masing dengan tarif per meternya sendiri
Satu meter panjang di tiap roll berisi kain yang berbeda banyak. Tarifnya ikut, atau salah satu pihak yang rugi.

Di nota tertulis "12,50 m × Rp 20.000". Yang jarang ditanyakan: meter yang mana?

Klien lama pesan ulang 15 jersey, pola dan size sama seperti bulan lalu. Cetakan pertama masuk ke roll 180 cm dan habis 12,5 m. Cetakan kedua tidak bisa — stok roll 180-nya kosong — jadi disusun di roll 110 cm dan habis 20,5 m. Dengan tarif rata Rp 20.000/m, notanya keluar Rp 250.000 dan Rp 410.000.

Kainnya sama banyak. Yang berubah cuma satuan yang ditagih.

Yang ditagih itu panjang roll, bukan luas desain

Satu meter di nota bukan satu meter persegi kain — itu satu meter panjang roll, selebar apa pun rollnya. Ini konsekuensi tarif dari hal yang sudah dibahas terpisah di cara menghitung kebutuhan kertas sublim per jersey: yang kamu beli dan yang kamu habiskan adalah panjang gulungan.

Artinya yang kamu jual bukan "per meter", tapi "per meter × lebar roll" — dan lebar rollnya justru bagian yang tidak pernah ikut disebut.

Perbandingannya bisa dihitung di kalkulator HP: 180 / 110 = 1,64. Satu meter roll 180 cm memuat 1,64 kali lipat kain dibanding satu meter roll 110 cm. Dengan satu tarif rata untuk semua roll, order dengan isi yang sama ditagih 64% lebih mahal begitu jatuh ke roll sempit.

Dan yang memilih roll itu bukan klien, tapi susunan cetaknya — lebar berapa yang bisa memuat potongan itu sebaris penuh, dan roll apa yang sedang ada. Klien membayar lebih untuk keputusan yang bukan keputusannya, dan itu yang bikin harganya terasa "kok beda-beda tiap order".

Kenapa tarif rata terasa adil tapi tidak

Alasan yang paling sering dipakai untuk mempertahankan tarif rata: roll lebar kan lebih mahal belinya, jadi impas. Yang dibandingkan di situ harga satu roll utuh, padahal yang menentukan adalah harga beli per cm lebar.

Dari harga roll yang diisi enam vendor pengguna Cethak, harga beli per cm lebar cuma berselisih 0,7% antarlebar. Kalaupun di supplier tempatmu kulak roll lebar sedikit lebih mahal per cm lebarnya, selisih itu tetap jauh di bawah selisih tagihan 64% tadi — jadi tidak ada dasar biaya untuk menagih kain yang sama dengan harga sejauh itu bedanya.

Yang tersisa tinggal memilih mau rugi di sisi mana. Dipatok di angka roll sempit, semua order di roll lebar jadi kemurahan; dipatok di angka roll lebar, order di roll sempit yang bikin rugi. Tarif rata selalu salah di salah satu sisi.

Artikel ini soal berapa yang ditagih. Kalau pertanyaanmu justru roll mana yang layak distok, itu bahasan lain di roll 110cm vs 160cm vs 180cm, mana yang lebih hemat.

Cara menyusunnya: tetapkan sekali per meter persegi, turunkan ke tiap lebar

Tiga langkah, dan tidak ada yang butuh lebih dari kalkulator.

  1. Tentukan tarif per meter persegi. Satu angka saja untuk seluruh usaha, bukan satu angka per lebar roll.
  2. Kalikan dengan lebar roll dalam meter. Hasilnya tarif per meter untuk lebar itu.
  3. Bulatkan ke angka yang enak disebut. Nol ratusan lebih gampang diingat operator dan klien.

Misalnya tarif yang sekarang kamu pakai Rp 20.000/m di roll 110 cm. Tarif per meter perseginya berarti 20.000 / 1,10 = Rp 18.182/m². Angka itu yang jadi induk semua tarif lain.

Lebar roll Hitungan Tarif per meter Dibulatkan
110 cm 18.182 × 1,10 Rp 20.000 Rp 20.000
160 cm 18.182 × 1,60 Rp 29.091 Rp 29.000
180 cm 18.182 × 1,80 Rp 32.727 Rp 33.000

Cara mengeceknya: berapa pun rollnya, pendapatan per meter persegi harus keluar di angka yang kurang lebih sama. Kalau satu lebar jauh di bawah yang lain, di situ tarifnya bocor.

Kalau daftar tarif itu kamu tulis sendiri di Excel, samakan format lebarnya — 110, bukan kadang 110,0 kadang 1,1 m. Penulisan yang tidak seragam bikin baris tarifnya diam-diam tidak ketemu waktu dicari. Dan kalau tarif untuk satu lebar memang belum diisi, yang benar adalah baris meternya tidak bisa terbit sama sekali, bukan diganti angka lain tanpa bilang-bilang.

Angka modal apa saja yang harus masuk ke tarif per m²

Kesalahan paling sering: tarif disusun dari harga kertas saja, padahal kertas biasanya bagian terkecilnya.

Pos belanja yang layak dipisah di percetakan kecil: tinta, kertas transfer, film DTF, kain, jahit, listrik, gaji, sewa, perawatan mesin, kirim/ekspedisi, dan sisanya masuk "lain-lain". Untuk jasa print per meter, yang minimal harus tertutup: kertas, tinta, listrik, gaji operator, perawatan head, dan sewa. Kain dan jahit tidak masuk — itu urusan mode per pcs.

Menghitungnya cukup sekali sebulan: total belanja pos-pos itu dibagi total meter yang keluar bulan itu. Hasilnya modal riil per meter, dan itu yang dibandingkan dengan tarifmu. Angkanya bergerak tiap harga tinta atau kertas naik.

Yang jangan pernah dimasukkan sebagai biaya order: harga beli satu roll utuh. Itu belanja stok, bukan biaya order — kalau dicampur, tarifnya melar tak keruan di bulan kamu kebetulan beli roll baru.

Dua cara menagih, jangan dicampur dalam satu nota

Mode per meter itu jual jasa cetak. Satu baris nota, satuannya meter, isinya panjang roll yang terpakai. Dipakai kalau klien bawa bahan sendiri atau memang minta print saja.

Mode per pcs itu jual barang jadi. Satu baris per size, qty dikali harga size, sudah termasuk kain, jahit, press, dan finishing.

Pilih satu per order. Nota campuran — per meter tapi ditambah ongkos jahit per pcs — sulit dipertahankan waktu klien bertanya, karena tidak ada satu satuan pun yang bisa dicek dari barang yang diterima.

Format baris yang aman untuk mode meter: "Nama model (15 pcs) — 12,50 m × Rp 33.000". Jumlah pcs tetap ditulis walaupun yang ditagih meter, supaya klien bisa mencocokkan nota dengan barang di tangannya. Kalau notanya masih diketik ulang di Excel, penyebab selisihnya dibahas di cara bikin invoice tanpa ketik ulang di Excel.

Angka meter di nota harus datang dari susunan cetak, bukan dari ingatan

Ini bagian yang paling sering bikin rugi diam-diam. Panjang yang ditagih diukur sampai ujung potongan paling belakang di susunan — panjang roll yang benar-benar habis, termasuk celah antarpotongan yang tidak bisa dipakai lagi.

Kesalahan umumnya menagih dari total luas pola. Pola tidak pernah mengisi roll 100%. Patokan area terpakai yang wajar ada di atas 70%; menagih dari luas pola berarti selisih ke angka itu tidak tertagih ke siapa pun. Kalau angka itu masih sering di bawah 70%, sebabnya dibahas di kenapa kertas sublim cepat habis padahal orderan sama.

Contohnya, satu set jersey yang habis 1,6 m di roll 160 cm memakai 2,56 m² kertas. Pada efisiensi 72%, luas polanya cuma sekitar 1,84 m² — jadi kalau yang ditagih luas pola, ada 0,72 m² atau sekitar 28% kertas yang benar-benar habis tapi tidak masuk nota. Tiap set, tiap order.

Praktik yang aman: catat panjang terpakai tiap order dua desimal, sama persis seperti yang keluar dari susunan, bukan dikira-kira dari ingatan. Kalau kamu mau memasang minimum tagih — misalnya 1 m — itu aturan tokomu sendiri yang ditulis manual di nota, karena order kecil selalu menyisakan kertas memanjang yang tidak bisa dipakai order berikutnya.

Punya daftar tarif bukan berarti tidak bisa nego

Daftar tarif itu titik nol, bukan harga akhir. Diskon boleh, asal kamu tahu berapa dan kenapa.

Caranya: tulis harga khususnya di nota, tapi tetap simpan tarif daftarnya. Akhir bulan jadi kelihatan berapa yang dilepas sebagai diskon; kalau tiap order dikira-kira dari nol, angka itu tidak pernah bisa dilihat. Alasan sah menurunkan harga: order besar sekali jalan, klien langganan, susunan yang kebetulan rapat. Alasan tidak sah: lupa tarifnya berapa.

Dan tarif turunan per lebar ini pun bukan jawaban untuk semua keadaan. Ada dua tempat dia terasa janggal.

Klien membandingkan angka "per meter" antarvendor. Rp 33.000/m terdengar mahal di sebelah vendor yang menyebut Rp 20.000/m, padahal rollnya beda lebar. Kalau tarifmu per lebar, lebarnya wajib ikut disebut waktu memberi harga.

Susunan yang longgar itu bukan salah klien. Kalau yang bikin susunannya longgar adalah kamu, klien membayar kelemahan susunanmu. Perbaiki susunannya dulu, jangan tarifnya.

Lima angka yang layak dilihat sebelum kirim nota

  1. Lebar roll yang akhirnya terpakai. Bukan yang direncanakan waktu order masuk.
  2. Panjang roll terpakai dalam meter, diambil dari susunan cetak.
  3. Tarif yang dipakai. Sudah sesuai lebar roll itu, atau masih tarif lama?
  4. Pendapatan per m² order ini = total dibagi (lebar m × panjang m). Kalau melenceng jauh dari order lain, ada yang salah di empat angka di atas.
  5. Mode nota: meter atau pcs, satu saja.

Yang kamu jual itu kain yang lewat mesin, bukan angka di kolom satuan. Selebar apa pun rollnya, pendapatan per meter perseginya harus keluar di angka yang kurang lebih sama.

Semua ini bisa dikerjakan pakai kalkulator, syaratnya cuma satu: panjang roll terpakai memang dicatat tiap order.

Kalau yang kamu jual film DTF

Logikanya persis sama, cuma lebarnya berbeda: film DTF umumnya datang di 30 cm dan 60 cm. Karena roll 60 cm memuat dua kali luas roll 30 cm per meter panjangnya, tarif per meternya juga wajar kalau kira-kira dua kali lipat — bukan sama, dan bukan pula naik seenaknya.

Jadi tetapkan sekali harga per m² untuk film, lalu turunkan ke dua lebar itu, sama seperti cara di atas. Tarif per lebar roll DTF disimpan di Profil usaha dan terisi sendiri begitu lembar filmnya selesai disusun.

Yang menentukan panjang film bukan besar desainnya, tapi cara menyusunnya di lembar — itu bahasan tersendiri di cara menyusun gang sheet DTF. Dan kalau yang boros justru tinta putihnya, bukan filmnya, jalan keluarnya ada di raster DTF.


Menyusun tarif per lebar roll cukup dikerjakan sekali di buku tulis. Yang menyita waktu itu bagian hariannya: mengukur panjang terpakai, mencocokkan tarifnya dengan lebar yang akhirnya terpakai, lalu menyalinnya ke nota.

Di Cethak daftar tarif disimpan per lebar roll, dan yang dipakai diambil dari roll yang terpilih sesudah susunan cetaknya jadi. Panjang meternya dihitung dari potongan paling ujung, bukan dari angka yang diketik ulang, dan isian manual operator tetap menang untuk order yang dinego. Notanya bisa terbit per meter atau per pcs. Ada masa coba 14 hari, dan pendaftarannya tidak minta kartu kredit.

Berhenti menebak, mulai menghitung otomatis

Cethak mengurus cek kelengkapan pola, nesting hemat kertas, dan hitungan biaya — semua sekali klik. Coba gratis.